(Senin, 18 Oktober 2004) - , kontribusi dari Haneda
Terakhir
diperbaharui (Selasa, 09 November 2004)
Secara umum iklim sebagai hasil interaksi proses-proses
fisik dan kimia fisik parameternya, seperti suhu, kelembaban,angin, dan pola curah hujan yang terjadi pada suatu tempat di muka bumi. Untuk
mengetahui kondisi iklim suatu tempat, menurut ukuran internasional diperlukan nilai rata-rata
parameternya selama kurang lebih 30 tahun. Iklim muncul akibat dari pemerataan energi bumi yang tidak tetap dengan adanya
perputaran/revolusi bumi mengelilingi matahari selama kurang lebih 365 hari serta rotasi bumi selama 24 jam. Hal
tersebut menyebabkan radiasi matahari yang diterima berubah tergantung lokasi dan posisi geografi suatu
daerah. Daerah yang berada di posisi
sekitar 23,5 Lintang Utara –23,5 Lintang Selatan, merupakan daerah tropis yang
konsentrasi energi suryanya surplus dari radiasi matahari yang diterima setiap tahunnya.
Sebagaimana dilaporkan Intergovernmental Panel on Climate
Change (IPCC) atau Panel yang berisi para ahli dunia, menyatakan iklim bumi telah berubah yang disampaikan secara
resmi pada KTT bumi di tahun 1992 di Rio de Janeiro, Brasil, hingga diadopsinya Konvensi Perubahan Iklim
Bangsa-bangsa (United Nations Framework Convention on Climate Change-UNFCCC), dan Indonesia telah meratifikasi
konvensi tersebut melalui Undang-undan Nomer 6 Tahun 1994.
Pertanyaannya adalah kenapa terjadi perubahan iklim global?
Karena dampak pemanasan global. Bagaimana terjadinya pemanasan global sebab adanya efek rumah kaca yang
berlebihan (lebih dari kondisi normal) di atmosfer bumi, sebagai akibat terganggunya komposisi gas-gas rumah kaca (GRK) utama
seperti CO2 (Karbon dioksida),CH4(Metan) dan N2O (Nitrous Oksida), HFCs (Hydrofluorocarbons), PFCs
(Perfluorocarbons) and SF6 (Sulphur hexafluoride) di atmosfer.
Darimanakah gas-gas tersebut dapat dihasilkan? GRK dapat
dihasilkan baik secara alamiah maupun dari hasil kegiatan manusia. Namun sebagian besar yang menyebabkan terjadi
perubahan komposisi GRK di atmosfer adalah gas-gas buang yang teremisikan keangkasa sebagai “hasil sampingan”
dari aktifitas manusia untuk membangun dalam memenuhi kebutuhan hidupnya selama ini. Dimulai sejak manusia menemukan teknologi industri pada
abad 18, banyak menggunakan bahan bakar primer seperti minyak bumi, gas
maupun batubara untuk menghasilkan energi yang diperlukan. Energi dapat diperoleh, kalau minyak itu dibakar
lebih dahulu, dari proses pembakaran tersebut keluarlah gas-gas rumah kaca.
Aktifitas-aktifitas yang menghasilkan GRK diantarnya dari
kegiatan perindustrian, penyediaan energi listrik, transportasi dan hal lain yang bersifat membakar suatu bahan. Sedangkan
dari peristiwa secara alam juga
menghasilkan/ mengeluarkan GRK seperti dari letusan gunung berapi,
rawa-rawa, kebakaran hutan, peternakan hingga kita bernafaspun mengeluarkan GRK. Selain itu aktifitas manusia
dalam alih guna lahan juga mengemisikan
GRK.
Bagaimana GRK berperan dalam efek rumah kaca dan merubah
iklim bumi? Mekanismenya kurang lebih dapat dijelaskan sebagai berikut: "atmosfer," adalah
lapisan dari berbagai macam gas yang menyelimuti bumi, dan merupakan mesin dari sistem iklim secara fisik. Ketika
pancaran/radiasi dari matahari yang berupa sinar tampak atau gelombang pendek memasuki atmosfer, beberapa bagian dari sinar
tersebut direfleksikan atau dipantulkan kembali oleh awan-awan dan debu-debu yang terdapat di angkasa, sebagian lainnya
diteruskan ke arah permukaan daratan. Dari radiasi yang langsung menuju ke permukaan daratan sebagian diserap oleh
bumi, tetapi bagian lainnya “dipantulkan” kembali ke angkasa oleh es, salju, air, dan permukaan-permukaan
reflektif bumi lainnya. Proses pancaran sinar matahari dari angkasa menembus atmosfer
sampai menuju permukaan bumi hingga dapat kita rasakan suhu bumi menjadi
hangat disebut efek rumah kaca (ERK) Tanpa ada efek rumah kaca di
sistem ikim bumi, maka bumi menjadi tidak layak dihuni karena suhu bumi terlalu rendah (minus).
Istilah efek rumah kaca, diambil dari cara tanam yang
digunakan para petani di daerah iklim sedang (negara yang memiliki empat musim). Para petani biasa menanam sayuran
atau bunga di dalam rumah kaca untuk menjaga suhu ruangan tetap hangat. Kenapa menggunakan kaca/bahan yang
bening? Karena sifat materinya yang dapat tertembus sinar matahari. Dari sinar yang masuk tersebut, akan
dipantulkan kembali oleh benda/permukaan dalam rumah kaca, ketika dipantulkan sinar itu berubah menjadi energi panas
yang berupa sinar inframerah, selanjutnya
energi panas tersebut terperangkap dalam rumah kaca. Demikian pula halnya
salah satu fungsi atmosfer bumi kita seperti rumak kaca tersebut.
Dari penjelasan di atas dapat kita mengerti bagaimana
mekanisme terjadinya efek rumah kaca di bumi. Lalu bagaimana keterkaitan antara efek rumah kaca, pemanasan global dan
perubahan iklim? Secara sederhana dijelaskan sebagai berikut sinar matahari yang tidak terserap permukaan bumi
akan dipantulkan kembali dari permukaan bumi ke angkasa.
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, sinar tampak adalah
gelombang pendek, setelah dipantulkan kembali berubah menjadi gelombang panjang yang berupa energi panas (sinar
inframerah), yang kita rasakan. Namun sebagian dari energi panas tersebut tidak dapat menembus kembali atau
lolos keluar ke angkasa, karena lapisan gas-gas atmosfer sudah terganggu komposisinya (komposisinya berlebihan).
Akibatnya energi panas yang seharusnya lepas ke angkasa (stratosfer) menjadi terpancar kembali ke permukaan bumi
(troposfer) atau adanya energi panas tambahan kembali lagi ke bumi dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga lebih
dari dari kondisi normal, inilah efek rumah kaca berlebihan
http://climatechange.menlh.go.id - Climate Change - Indonesia
Powered by Mambo Open Source Generated:
14 July, 2008, 13:45karena komposisi
lapisan gas rumah kaca di atmosfer terganggu, akibatnya memicu naiknya suhu
rata-rata dipermukaan bumi maka terjadilah pemanasan global. Karena suhu adalah
salah satu parameter dari iklim dengan begitu berpengaruh pada iklim bumi, terjadilah perubahan iklim
secara global.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar